Hari Raya Nyepi Cerminan Kedamaian Bali

Bicara mengenai BALI yang identik dengan keindahan dan ketenangannya, maka Hari Raya Nyepi merupakan puncak dari segala ketenangan dan kedamaian di Pulau Dewata yang kaya akan budaya dan keindahan alamnya. Hari Raya Nyepi merupakan pergantian tahun caka yang dirayakan umat Hindu di Bali dengan beberapa rangkaian upacara didalamnya sebagai wujud bhakti umat hindu di Bali kepada Sang Pencipta Alam Semesta Ini. Secara sederhana perayaan Hari Raya Nyepi dimulai dengan rangkaian Melasti, Pangrupukan, Puncak Hari Nyepi dan Ngembak Geni.

Beberapa Hari sebelum nyepi, umat Hindu akan melakukan rangkaian Melasti atau juga disebut Melis atau Mekiyis. Rangkaian kegiatan melasti ini bertujuan untuk menyucikan semua prangkat upacara dan juga diri sendiri. Dalam prosesi Melasti ini masyarakan akan mengaraksemua prangkat persembahyangan ke laut atau danau karena laut dan danau dipercayai sebagai sumber air suci (Tirta Amerta) yang bisa menyucikan segala yang kotor secara jasmani dan rohani.

Dalam acara ini masyarakat hindu akan beriring iringan menuju ke pantai, berkumpul antara tua dan muda, bahkan juga anak anak, menikmati kebersamaan dalam ikatan tradisi yang sudah diwarisi bertahun tahun.

Rangkaian perayaan Nyepi selanjutnya adalah Tawur (Macaru) yang kemudian diikuti Pangrupukan. Prosesi ini dilakukan satu hari sebelum puncak Hari Raya Nyepi dimana prosesi upacara ini bertujuan untuk penyucian/pemarisuda Buta Kala, serta segala leteh atau kekotoran diharapkan sirna semuanya. Dalam Upacara ini biasanya dimeriahkan oleh Ogoh – Ogoh yang bisa menjadi tontonan begitu menarik di Bali. Ogoh Ogoh merupakan perwujudan bhuta kala yang dibuat dan diarak keliling lingkungan desa , dan kemudian akan dibakar. Prosesi ini mempunyai jutuan sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Besoknya Puncak Hari Raya Nyepi pun tiba. Pada hari ini suasana akan terlihat mati, tidak ada satu kegiatan dan aktivitaspun terlihat. Tidak ada kendaraan yang lewat, tidak ada mesin yang hidup, semua menjadi sunyi. Bandara Ngurah Rai pun Tutup. Pada Hari Raya ini umat hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak menyalakan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), serta amati lelanguan (tidak menikmati hiburan). Serta bagi yang mampu juga bisa melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi.

Rangkaian terakhir Hari Raya Nyepi adalah Ngembak Geni dimana umat hindu melakukan syukuran dan berkunjung ke sanak saudara untuk mempererat tali kekeluargaan dalam menyongsong tahun yang baru dengan segala yang baru dan hati yang bersih berharap menjadikan segalanya menjadi lebih baik.

Perayaan Nyepi Sungguh hari yang dinanti nantikan semua umat hindu untuk menikmati ketenangan dan kedamaian. Begitu banyaknya nilai positif yang bisa diambil dari Catur Bharata Penyepian ini mulai dari hilangnya polusi udara dari asap CO2 dari kendaraan hingga manfaat positif yang bersifat spiritual.

Namun yang pasti…, inilah kedamaian yang paling mendasar, ketenangan yang sejadi di Pulau Dewata.

Baca Juga Artikel Ini !

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*



*